ISTIKHARAH
Sampai sini, telah dibuktikan bahwa Allah memberikan jawaban kepada hamba-Nya melalui pengalaman langsung sehingga si hamba ini dapat merasakan sendiri jawaban terhadap apa yang dimohonkannya.
Namun dalam islam, ada metode lain yang dianjurkan oleh Rasulullah saw dalam menentukan pilihan yang sulit, yaitu
shalat istikharah.
Sebenarnya metode ini tidak bertentangan dengan teori diatas. Hanya saja, Rasulullah mengajarkan suatu ritual khusus dalam memohon petunjuk. Bila kaji lebih dalam lagi, doa-doa yang dipanjatkan dalam istikharah itu dapat kita panjatkan saat shalat lainnya.
Kembali kepada istikharah…dari beberapa informasi, jawaban dari shalat istikharah ini bermacam macam, dapat berupa kemudahan, kecenderungan hati, maupun mimpi. Namun dari semua itu, jawaban lewat mimpi ini yang paling populer dimasyarakat. Nah dilihat dari metode jawaban ini, terkesan bahwa teori jawaban Allah ini kayaknya bertolak belakang.
Namun sebelumnya ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam shalat istikharah tersebut.
Pertama, harus ada netralitas dari sendiri kita terhadap pilihan-pilihan yang ada. Sebab sedikit saja ada kecondongan pada salah satu pilihan, maka (katanya) setan ikut berperan dalam menentukan pilihan tersebut. Jadi jawaban yang ada itu bisa-bisa bukan dari Allah. Bahkan seseorang mengatakan, bahwa setan akan turut berperan serta jika ada sedikit saja kecenderungan kita terhadap pilihan yang ada.
Kedua, besarnya kemungkinan didapatnya jawaban yang saling bertentangan bila ada lebih dari 2 orang yang melakukan istikharah untuk satu kasus.
Analisa Syarat Pertama
Untuk kasus yang pertama, seberapa mampu kita netral terhadap pilihan yang ada? Terus terang sangat sulit untuk kita sendiri agar bisa netral terhadap sesuatu. Dalam ilmu psikology dikenal dengan istilah alam bawah sadar. Alam bawah sadar ini merupakan keinginan kita yang paling dasar yang terpendam di bawah lubuk hati. Sering kali kita tidak sadar seperti apa keinginan terpendam kita akan suatu hal.
Namun saat emosi kita bergolak, keinginan kita itu dapat mempengaruhi mimpi-mimpi kita. Hal ini telah diteliti oleh ahli psikologi prancis bernama Freud.
Bila dihubungkan dengan jawaban dari shalat istikharah, terutama yang dari mimpi, maka rasanya kurang valid bila kita terlalu mempercayai langsung mimpi tersebut sebagai petunjuk dari Allah, karena bisa saja setan yang berperan melalui celah kecil dari alam bawah sadar kita.
Lalu bagaimana bila jawabannya adalah kemudahan atau kecenderungan hati? Ini lebih parah, emosi dapat menutupi segala rasional dan netralitas diri kita sehingga tidak melihat kesulitan yang lebih banyak dpd kemudahannya. Hal ini berlaku pula untuk kecenderungan hati.
Analisa Syarat Kedua
Pernahkah mendapati kasus dimana jawaban yang didapat oleh lebih dari 1 orang yang menghadapi satu kasus, ternyata berbeda satu sama lain, bahkan saling bertolak belakang?
Sebagai contoh si A melamar B. Si B shalat istikharah dan jawabannya bukan si A, sedangkan si A mendapat jawaban bahwa orangnya si B.
Bukankah ini bertentangan satu sama lain? Hanya ada 2 kemungkinan, dua-duanya bukan jawaban dari Allah, atau salah satunya saja yang merupakan jawaban dari Allah. Tp yang mana? Tidak bisa kalo si A keukeuh terhadap tanda-tandanya, atau si B terhadap mimpinya. Karena kebenaran itu hanya satu.
Solusi
Beberapa orang telah dimintai pendapatnya. Dari sini ada 2 pendapat yang berhasil dikumpulkan yang, insya Allah, tidak saling bertentangan satu sama lain, bahkan bisa saling melengkapi.
Solusi I
Kembalikan kepada syariat. Hanya lewat ini kita menilai.
Misalnya untuk kasus si A melamar si B. Maka kita bs kembalikan kepada syariat. Dalam hadits, ada 4 alasan seseorang dinikahi/menikahi. Pertama karena kecantikannya, kedua karena hartanya, ketiga karena keturunannya, keempat (yang paling utama) karena agamanya (hadits riwayat Bukhari, Muslim, dll), maka mereka berdua seharusnya menilai dari sisi agamanya. Yang mana yang terbaik dari semua
pilihan yang ada. Kemudian bila diperlukan, cari pihak ketiga yang netral untuk meminta nasihat. Untuk kasus-kasus lain, seperti ini juga .. kembalikan kepada syariat.
Solusi II
Dengan memakai pola pikiran orang skeptis ataupun atheis, kita uji jawaban-jawaban tersebut. Memang sedikit gambling, tapi dengan begini kita bisa merasa puas dg jawaban yang ada. Bagaimana cara mengujinya? Yah… ini tergantung kasusnya. Misalnya untuk kasus si A dan si B ini, mungkin mereka
gambling … “pacaran/ta’aruf” dulu. Jika memang jodoh, maka proses ta’aruf tersebut akan berlanjut ke pernikahan. Bila tidak jodoh, maka proses ta’aruf tersebut akan berhenti ditengah jalan. Pada saat proses tersebut, keduanya harus aware terhadap tanda-tanda yang ada… apakah proses tersebut akan diteruskan
atau tidak.
Yang terbaik
Bagaimana kita tahu bahwa pilihan ini adalah yang terbaik untuk kita? Tentunya kita memerlukan buku panduan untuk melihat itu.
Sebagai umat islam, buku panduannya adalah Al Quran (QS 2:2/2:185/6:90/7:23 … dsb).
Dan setiap saat kita sering dihadapi pada pilihan (baca: Kadang Takdir itu seperti pilihan). Namun darimana kita tahu bahwa pilihan itu adalah yang terbaik untuk kita.
Dalam QS 39:18
Yang mendengarkan Perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. mereka Itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal.
Secara eksplisit, ayat tersebut mengajarkan kita bagaimana menghadapi pilihan. Seluruh pilihan kita
terima dahulu, kemudian dengan akal kita memilahnya mana yang terbaik Yang pasti, sangat logis bila dikatakan bahwa segala sesuatu yang baik akan membawa kita kepada kebaikan dan sebaliknya.
Misalnya pada kasus A dan B … benarkah si A yang terbaik untuk si B? benarkah si B yang terbaik untuk si A? Dg memakai teorema ini, maka keduanya tinggal melihat ke diri sendiri, apakah pengaruh si A/B membawa si B/A ke arah kebaikan? Kl dia (A/B) memang membawa dirinya (B/A) ke arah kebaikan, maka memang benar adanya dialah yang terbaik.
Metode ini juga bisa diterapkan untuk menguji, apakah benar agama yang kita anut saat ini (islam) adalah yang terbaik? Kebetulan saya pernah sampai dikeadaan ragu terhadap agama (agnostik), dan saya menggunakan metode ini untuk menguji setiap agama yang saya kenal (Kristen, katolik, buddha, islam, hindu). Alhamdulillah, sampai saat ini memang baru Islam yang lolos ujian tersebut, gak tau nanti.
Jadi sampai saat ini, metode istikharah tidak bertentangan dengan metode/teori yang saya paparkan di atas … selama kita tidak terpaku pada jawaban yang telah ditentukan. Bahkan kita sebaiknya lebih meningkatkan kewaspadaan kita terhadap jawaban Allah dari jalan lain.
Juga Istikharah tidak menutup kemungkinan bahwa Allah akan memberikan jawaban dg cara-Nya sendiri, termasuk spt yang diuraikan ditulisan ini.
Wallahu ‘alam bish shawab
w.w.w
Regards,
Hummdee6
http://hummdee6.blog.friendster.com/2007/03/kala-allah-menjawab-i-bag-2/
great notes... thanks...
ReplyDelete